HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

AS Ajukan 15 Poin ke Iran untuk Redam Konflik Timur Tengah, Teheran Belum Memberi Kepastian

 

AS Ajukan 15 Poin ke Iran untuk Redam Konflik Timur Tengah, Teheran Belum Memberi Kepastian
Surabaya (Jatimradar.com) – Memasuki pekan keempat, konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di tengah situasi yang kian memanas, Amerika Serikat (AS) mulai mendorong jalur diplomasi dengan mengajukan proposal berisi 15 poin kepada Iran.

Mengutip laporan The New York Times, proposal tersebut dikirimkan melalui jalur tidak langsung dengan melibatkan Pakistan sebagai perantara. Isi dokumen mencakup sejumlah tuntutan krusial, terutama terkait program nuklir dan rudal balistik Iran, hingga pengaturan strategis di Selat Hormuz.

Hingga kini, belum ada kepastian apakah Teheran akan menerima proposal tersebut sebagai dasar negosiasi lanjutan.

 

Sejumlah Tuntutan Besar dari Washington

Dalam proposal itu, Washington meminta Iran melakukan langkah-langkah signifikan. Beberapa poin utama yang diajukan antara lain:

  • Menghapus seluruh kemampuan nuklir yang dimiliki
  • Menghentikan pengayaan uranium secara permanen
  • Menyerahkan sekitar 450 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen kepada Badan Energi Atom Internasional
  • Menutup fasilitas nuklir utama, seperti Natanz, Isfahan, dan Fordow di bawah pengawasan internasional
  • Membatasi pengembangan rudal balistik
  • Menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan
  • Menjamin Selat Hormuz tetap terbuka untuk jalur perdagangan global

Sebagai imbalannya, AS menawarkan pencabutan penuh sanksi ekonomi terhadap Iran. Selain itu, Washington juga membuka peluang kerja sama pengembangan energi nuklir sipil, termasuk pada reaktor Bushehr.

Dalam skema tersebut, mekanisme “snapback” atau pengembalian sanksi internasional secara otomatis juga disebut akan dihapus.

Di sisi lain, utusan Gedung Putih seperti Jared Kushner dan Steve Witkoff dilaporkan tengah menyiapkan kerangka awal kesepakatan. Tahap pertama dirancang berupa gencatan senjata selama satu bulan guna membuka ruang negosiasi lebih lanjut.

 

Israel Waspada, Iran Pilih Bertahan

Perkembangan ini memunculkan kekhawatiran dari Israel. Pemerintah negara tersebut menilai ada kemungkinan AS akan menerima kesepakatan parsial.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan menunjuk Ron Dermer untuk memantau jalannya pembicaraan antara AS dan Iran. Israel juga menegaskan bahwa operasi militernya tetap berjalan di tengah proses diplomasi.

Sementara itu, Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengakui adanya pesan yang disampaikan melalui negara sahabat, namun menegaskan respons Iran tetap berpegang pada prinsip nasional.

Senada, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai klaim AS hanya upaya mengalihkan perhatian dari situasi yang buntu.

 

Diplomasi Dikejar Tenggat

Sejumlah negara mulai mengambil peran sebagai mediator, di antaranya Pakistan, Turki, dan Mesir. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, bahkan menyatakan kesiapan negaranya menjadi tuan rumah perundingan.

AS bersama para mediator kini menunggu sikap resmi Iran terkait rencana pertemuan tingkat tinggi yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Maret. Wakil Presiden AS, JD Vance, disebut berpotensi ikut terlibat jika pembicaraan berjalan.

Presiden Donald Trump juga memperpanjang batas waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz hingga 27 Maret. Ia mengklaim komunikasi dengan pihak terkait terus berlangsung dan membuka peluang tercapainya kesepakatan.

Namun, Trump tetap menegaskan opsi militer masih terbuka jika jalur diplomasi gagal.

 

Sikap Iran Menguat, Tuntutan Bertambah

Di tengah tekanan yang meningkat, Iran justru dilaporkan memperkeras posisinya. Teheran kini mengajukan sejumlah tuntutan tambahan, mulai dari jaminan tidak adanya serangan di masa depan, kompensasi perang, hingga kendali resmi atas Selat Hormuz.

Iran juga menolak membahas pembatasan program rudal balistiknya—poin yang menjadi salah satu tuntutan utama Washington.

Sebelumnya, Trump sempat mengklaim kedua negara telah mencapai kesepakatan di beberapa isu penting, termasuk penghentian program senjata nuklir Iran. Namun pernyataan itu langsung dibantah oleh pihak Teheran.

Ketegangan semakin meningkat setelah AS mengeluarkan ultimatum terkait pembukaan Selat Hormuz, disertai ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran jika tuntutan tidak dipenuhi.

 

Posting Komentar