HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Erich Susilo, Menemukan Keheningan di Antara Hiruk Pikuk Kota

 


                           Erich Susilo, Menemukan Keheningan di Antara Hiruk Pikuk Kota

Hidup di kota besar seperti Jakarta membuat banyak orang kehilangan ruang untuk berpikir. Kebisingan jalanan, tuntutan pekerjaan, dan arus informasi tanpa henti sering kali membuat kepala terasa penuh. Namun bagi Erich Susilo, di balik semua kebisingan itu, ia justru menemukan sumber inspirasi yang membuatnya terus menulis.

Kota sebagai Ruang Inspirasi

Banyak orang menganggap kota sebagai tempat yang melelahkan. Tetapi Erich melihatnya secara berbeda. Ia percaya bahwa setiap sudut kota menyimpan cerita. Lampu jalanan, orang-orang yang terburu-buru, pedagang kaki lima, bahkan hiruk pikuk kendaraan—semuanya bisa menjadi inspirasi jika dilihat dari sudut yang tepat.

Ia tidak menunggu momen sempurna untuk merasakan inspirasi. Sebaliknya, ia membiarkan kota berbicara kepadanya melalui pengalaman sehari-hari. Segala hal kecil yang ia temui menjadi bahan refleksi yang kemudian mengisi blog pribadinya.

Menciptakan Keheningan di Tengah Kebisingan

Menurut Erich, keheningan tidak selalu berarti tempat yang sunyi. Keheningan adalah kondisi pikiran yang bisa muncul di mana saja. Bahkan di tengah keramaian kota, seseorang tetap bisa menemukan ketenangan jika tahu bagaimana membangunnya.

Setelah selesai bekerja, Erich biasanya menyisihkan waktu untuk meresapi kembali apa yang terjadi dalam hidupnya. Tidak jarang ia duduk di salah satu sudut kota, memandang lalu lintas yang padat, atau berjalan pelan sambil mendengarkan suara lingkungan. Baginya, ini cukup untuk mengembalikan kejernihan pikiran.

Momen sederhana seperti itu justru yang menjadi ruang hening bagi Erich—ruang di mana ia bisa mendengarkan dirinya sendiri.

Menulis untuk Menjaga Kewarasan

Dengan dinamika kota yang penuh tekanan, menulis menjadi salah satu cara Erich menjaga kewarasan emosional. Menulis membantunya memetakan perasaan yang sebelumnya kacau. Membuatnya lebih memahami apa yang sedang terjadi dalam dirinya.

Baginya, menulis bukan hanya aktivitas kreatif, tetapi juga proses penyembuhan. Ketika hidup terasa terlalu cepat, menulis memaksanya melambat. Ketika pikiran terasa penuh, menulis membantunya merapikan semuanya satu per satu.

Dalam tiap kalimat yang ia tulis, Erich menemukan kembali dirinya di tengah kehidupan kota yang menuntut.

Kota yang Memberi Banyak Pelajaran

Erich melihat kota sebagai guru yang mengajarkan banyak hal: kesabaran, kepekaan, ketangguhan, dan kemampuan beradaptasi. Pelajaran-pelajaran itu kemudian muncul dalam setiap refleksi yang ia tulis, baik secara langsung maupun tersirat.

Melalui blognya, pembaca bisa merasakan kehangatan dari cara Erich melihat kehidupan kota. Tidak judgmental, tidak emosional berlebihan, tetapi juga tidak acuh. Ia memandang kota sebagai bagian penting dari proses kreatifnya.

Penutup

Perjalanan menulis Erich Susilo menunjukkan bahwa keheningan bisa ditemukan bahkan di tempat paling bising sekalipun. Bahwa inspirasi tidak harus dicari jauh-jauh, tetapi sudah ada di sekitar kita, menunggu untuk diperhatikan.

Dengan cara ini, Erich mengubah hiruk pikuk kota menjadi sumber ide yang tak pernah habis. Dan bagi pembacanya, ia menawarkan cara baru untuk melihat hidup: lebih pelan, lebih peka, dan lebih penuh makna.

Posting Komentar