Christian Adinata Blak-blakan: Cedera, Terpuruk, hingga Bangkit Kembali
Pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Christian Adinata, berbagi cerita jujur mengenai perjalanan kariernya yang penuh lika-liku. Mulai dari cedera parah, degradasi dari Pelatnas PBSI, hingga hampir memutuskan pensiun, semua ia lewati dengan penuh perjuangan. Namun kini, ia kembali menunjukkan eksistensinya dengan meraih prestasi membanggakan.
Dari Cedera hingga Terdegradasi
Christian, yang akrab disapa Cea, pernah mengalami masa
sulit setelah terkena cedera serius pada 2023. Kondisi itu membuat performanya
menurun dan namanya dicoret dari Pelatnas. Keputusan tersebut sempat membuatnya
terpukul hingga berpikir untuk berhenti dari dunia bulutangkis.
“Setelah didegradasi, saya sempat ingin pensiun. Tapi dua
hari setelah itu, banyak sekali yang mendukung dan percaya pada saya. Dari situ
saya merasa mendapat jalan baru,” ungkapnya.
Christian mengaku, proses bangkit dari keterpurukan bukan
hal mudah. Ia harus memulai kembali dari level bawah, mengikuti
turnamen-turnamen kecil di Eropa. Hasilnya belum stabil, namun konsistensi yang
ia jaga mulai membuahkan hasil, terutama saat kembali tampil di Thailand.
Dukungan Keluarga dan Lingkungan
Meski sempat berada di titik terendah, Christian merasa
beruntung karena keluarga selalu mendukung penuh. Orang tuanya tidak memberikan
tekanan, justru menekankan bahwa apapun yang terjadi, ia tetap anak mereka.
“Tidak ada tekanan. Papa juga bilang, mau jadi atlet atau
tidak, saya tetap anaknya. Itu membuat saya tenang dan bisa menikmati setiap
pertandingan tanpa beban,” katanya.
Selain keluarga, dukungan juga datang dari rekan-rekan atlet
internasional. Bahkan nama-nama besar seperti Viktor Axelsen dan HS Prannoy
memberikan semangat setelah Christian berbagi kisahnya.
Pengalaman Culture Shock
Sejak 2018, Christian sudah menjadi bagian dari Pelatnas,
mulai dari atlet magang hingga akhirnya promosi ke level utama pada 2021. Ia
pernah menyumbangkan medali emas untuk tim beregu putra di SEA Games Kamboja
2023 serta meraih ranking dunia tertinggi di posisi 37.
Namun, ketika akhirnya harus keluar dari Pelatnas, Christian
mengalami culture shock. Ia harus mengurus semua kebutuhan sendiri, sesuatu
yang sebelumnya selalu ditangani oleh pelatnas. Meski sulit, hal itu justru
membuatnya lebih dewasa dan belajar banyak tentang kehidupan di luar lapangan.
“Awalnya berat sekali, sempat depresi juga. Tapi dengan doa
dan dukungan orang-orang terdekat, saya belajar fokus hari demi hari. Yang
penting setiap hari lebih baik dari kemarin,” ucapnya.
Masa Depan dan Komitmen
Ketika ditanya soal kemungkinan kembali ke Pelatnas,
Christian mengaku masih berat. Ia merasa memiliki komitmen moral kepada sponsor
yang setia mendukungnya saat berada di masa sulit.
“Saya menghargai sponsor yang selalu ada ketika saya
terpuruk. Jadi walaupun ada tawaran kembali ke Pelatnas, saya tetap memilih
berkarier di luar,” tegasnya.
Kini, Christian lebih menikmati perjalanan kariernya tanpa
tekanan. Ia tidak merasa perlu membuktikan diri kepada orang lain, melainkan
kepada dirinya sendiri. Dengan mental yang lebih kuat, ia bertekad menjaga
konsistensi dan terus berprestasi di panggung internasional.
