Ilmuwan Sebut Manusia Bisa Hidup hingga 20.000 Tahun Jika Teknologi Ini Tercipta
Bayangkan jika manusia bisa hidup bukan hanya ratusan, melainkan ribuan tahun. Sejumlah ilmuwan menyebut hal itu mungkin terjadi dengan bantuan teknologi tertentu, bahkan potensi usia manusia bisa mencapai hingga 20.000 tahun.
Penelitian yang membahas topik ini berfokus pada konsep “mind
uploading” atau pengunggahan pikiran. Teknologi tersebut memungkinkan
kesadaran manusia dipindahkan ke dalam sistem komputer supercanggih atau bentuk
kecerdasan buatan. Dengan cara ini, manusia tak lagi terbatas oleh usia
biologis tubuh, melainkan dapat “hidup” dalam bentuk digital.
Teknologi Pengunggahan Pikiran
Dalam teori ini, otak manusia akan dipindai secara detail
hingga ke tingkat sel saraf, lalu dipetakan dan dipindahkan ke perangkat
digital. Hasilnya adalah salinan pikiran, memori, dan kesadaran yang bisa
berfungsi layaknya manusia asli, hanya saja dalam medium non-biologis.
Jika teknologi ini benar-benar terwujud, maka seseorang
dapat terus hidup selama sistem digital yang menampung kesadarannya berfungsi.
Hal inilah yang membuka kemungkinan manusia untuk memiliki rentang hidup hingga
20.000 tahun, bahkan lebih lama lagi.
Tantangan yang Dihadapi
Meski terdengar futuristis, para ahli menegaskan bahwa
teknologi ini masih sebatas teori dan jauh dari kenyataan. Ada sejumlah
tantangan besar yang harus dihadapi, antara lain:
- Kompleksitas
otak manusia – Otak terdiri dari sekitar 86 miliar neuron, dan
memindahkan seluruh informasi di dalamnya ke bentuk digital merupakan
pekerjaan raksasa yang belum mungkin dilakukan.
- Aspek
etika dan identitas – Jika kesadaran dipindahkan, apakah itu
benar-benar masih “manusia yang sama” atau hanya salinan digitalnya?
- Ketahanan
teknologi – Kehidupan dalam bentuk digital membutuhkan sistem
penyimpanan dan perangkat yang sangat stabil agar tidak rusak seiring
waktu.
Potensi Masa Depan
Meskipun masih berupa spekulasi, ide ini membuka diskusi
menarik tentang masa depan manusia. Beberapa ilmuwan optimistis bahwa kemajuan
dalam kecerdasan buatan, neuroscience, dan teknologi komputasi suatu saat bisa
mendekatkan umat manusia pada kemungkinan tersebut.
Selain itu, jika suatu hari teknologi pengunggahan pikiran
benar-benar tercipta, bukan hanya soal umur panjang yang menjadi dampaknya,
tetapi juga akan muncul perdebatan mengenai hak, hukum, dan makna hidup itu
sendiri.