Tunjangan DPR Naik di Tengah Ekonomi Sulit, Akademisi UGM: Tambah Beban APBN
Kebijakan kenaikan tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menuai sorotan publik. Pasalnya, keputusan ini diambil di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih penuh tantangan.
Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai, langkah
tersebut justru menambah beban bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN). Menurutnya, kebijakan itu tidak sensitif terhadap situasi ekonomi
nasional yang masih dalam tahap pemulihan pascapandemi dan menghadapi tekanan
global.
Ia menegaskan bahwa DPR seharusnya memberi contoh
penghematan, bukan justru menambah pengeluaran negara. Kenaikan tunjangan
dinilai kontradiktif dengan kondisi masyarakat yang masih menghadapi harga
kebutuhan pokok tinggi, ketidakpastian pekerjaan, dan daya beli yang melemah.
“APBN saat ini sudah terbebani dengan berbagai program
prioritas seperti subsidi energi, bantuan sosial, dan pembangunan
infrastruktur. Menambah tunjangan DPR hanya mempersempit ruang fiskal negara,”
jelasnya.
Kritik ini sejalan dengan keresahan publik yang menilai
keputusan tersebut tidak tepat waktu. Banyak pihak beranggapan bahwa dana yang
digunakan untuk kenaikan tunjangan sebaiknya dialihkan untuk sektor yang lebih
mendesak, seperti pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan rakyat.
Meski demikian, pihak DPR beralasan bahwa kenaikan tunjangan
dimaksudkan untuk menunjang kinerja wakil rakyat dalam menjalankan tugas
legislasi, pengawasan, dan representasi. Namun, argumen ini tetap memicu
perdebatan karena dianggap tidak sebanding dengan kondisi riil masyarakat saat
ini.
Perdebatan mengenai kenaikan tunjangan DPR diperkirakan akan
terus berlangsung. Publik menunggu langkah konkret pemerintah dan parlemen
untuk lebih mengutamakan kepentingan rakyat dalam setiap keputusan yang
diambil.